Selasa, 17 Desember 2013

Hakikat belajar

BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Sebagai seorang guru yang sehari-hari mengajar di sekolah, tentunya tidak jarang harus menangani anak-anak yang mengalami kesulitan dalam masalah belajar. Anak-anak yang sepertinya sulit sekali menerima materi pelajaran, baik pelajaran membaca, menulis, serta berhitung. Hal ini terkadang membuat guru menjadi frustasi memikirkan bagaimana menghadapi anak-anak seperti ini. Demikian juga para orang tua yang memiliki anak-anak yang memiliki kesulitan dalam masalah belajar. Harapan agar anak mereka menjadi anak yang pandai, mendapatkan nilai yang baik di sekolah menambah kesedihan mereka ketika melihat kenyataan bahwa anak-anak mereka kesulitan dalam masalah belajar.
Akan tetapi yang lebih menyedihkan adalah perlakuan yang diterima anak yang mengalami kesulitan belajar dari orang tua dan guru yang tidak mengetahui masalah yang sebenarnya, sehingga mereka memberikan cap kepada anak mereka sebagai anak yang bodoh, tolol, ataupun gagal.
Fenomena ini kemudian menjadi perhatian para ilmuan yang tertarik dengan masalah kesulitan belajar. Keuntungannya ialah, mereka mencoba menemukan metode-metode yang dapat digunakan untuk membantu anak-anak yang mengalami kesulitan belajar tersebut tetap dapat belajar dan mencapai apa yang diharapkan guru dan orang tua.
Dalam tulisan ini, kita akan mendapati apa sebenarnya yang dimaksud masalah kesulitan belajar, factor apa yang menjadi penyebabnya, serta metode yang dapat digunakan untuk membantu anak yang  mengalami masalah kesulitan belajar.

B.     Rumusan Masalah
Berdasarkan dari latar belakang diatas, rumusan masalah yang akan dibahas adalah sebagai berikut:
1.      Apa yang dimaksud dengan belajar?
2.      Apa yang dimaksud dengan masalah belajar?
3.      Jelaskan jenis-jenis masalah belajar!
4.      Apa yang menyebabkan terjadinya masalah belajar?
5.      Bagaimana cara mengatasi masalah belajar?
C.    Tujuan Penelitian
Adapun tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut:
1.      Mengetahui pengertian belajar
2.      Mengetahui pengertian masalah belajar
3.      Mampu menjelaskan jenis-jenis masalah belajar
4.      Mengetahi  penyebab terjadinya masalah belajar
5.      Mengetahui cara mengatasi masalah belajar

BAB II
PEMBAHASAN
A.    Pengertian Belajar
Belajar merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi dan berperan penting dalam pembentukan pribadi dan perilaku individu. Nana Syaodih Sukmadinata (2005) menyebutkan bahwa sebagian terbesar perkembangan individu berlangsung melalui kegiatan belajar. Lantas, apa sesungguhnya belajar itu ?
Di bawah ini disampaikan tentang pengertian belajar dari para ahli :
{  Moh. Surya (1997) : “belajar dapat diartikan sebagai suatu proses yang dilakukan oleh individu untuk memperoleh perubahan perilaku baru secara keseluruhan, sebagai hasil dari pengalaman individu itu sendiri dalam berinteraksi dengan lingkungannya”.
{  Witherington (1952) : “belajar merupakan perubahan dalam kepribadian yang dimanifestasikan sebagai pola-pola respons yang baru berbentuk keterampilan, sikap, kebiasaan, pengetahuan dan kecakapan”.
{  Crow & Crow dan (1958) : “ belajar adalah diperolehnya kebiasaan-kebiasaan, pengetahuan dan sikap baru”.
{  Hilgard (1962) : “belajar adalah proses dimana suatu perilaku muncul perilaku muncul atau berubah karena adanya respons terhadap sesuatu situasi”
{  Di Vesta dan Thompson (1970) : “ belajar adalah perubahan perilaku yang relatif menetap sebagai hasil dari pengalaman”.
{  Gage & Berliner : “belajar adalah suatu proses perubahan perilaku yang yang muncul karena pengalaman”
Slameto (1988:2) mengemukakan bahwa “belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan individu untuk memperoleh suatu perubahan perilaku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil dari pengalaman individu itu sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya. Moeslichatoen (1989:1) mengemukakan bahwa belajar diartikan sebagai proses yang membuat terjadinya proses belajar dan perubahan itu sendiri dihasilkan dari usaha dalam proses belajar.
Cronbach (Sardiman, 1990:22) menyatakan bahwa belajar adalah perubahan perilaku sebagai hasil dari pengalaman. Geoch (Sardiman, 1990:22) juga mengemukakan bahwa belajar adalah perubahan dalam performansi sebagai hasil dari praktek.
B.     Pengertian Masalah Belajar
Aktifitas belajar bagi setiap individu, tidak selamanya dapat berlangsung secara wajar. Kadang-kadang lancar, kadang-kadang tidak, kadang-kadang dapat cepat menangkap apa yang dipelajari, kadang-kadang terasa amat sulit. Dalam hal semangat, terkadang semangatnya tinggi, tetapi juga sulit untuk mengadakan konsentrasi. Demikian kenyataan yang sering kita jumpai pada setiap anak didik dalam kehidupan sehari-hari dalam kaitannya dengan aktifitas belajar. Setiap individu memang tidak ada yang sama. perbedaan individu ini pulalah yang menyebabkan perbedaan tingkah laku dikalangan anak didik.
Masalah belajar adalah suatu kondisi tertentu yang dialami oleh murid dan menghambat kelancaran proses belajarnya. Dalam keadaan di mana anak didik / siswa tidak dapat belajar sebagaimana mestinya, itulah yang disebut dengan masalah  belajar. Masalah belajar merupakan kekurangan yang tidak nampak secara lahiriah. Ketidak mampuan dalam belajar tidak dapat dikenali dalam wujud fisik yang berbeda dengan orang yang tidak mengalami masalah kesulitan belajar. Masalah belajar ini tidak selalu disebabkan karena factor intelligensi yang rendah (kelaianan mental), akan tetapi dapat juga disebabkan karena faktor lain di luar intelligensi. Dengan demikian, IQ yang tingi belum tentu menjamin keberhasilan belajar. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa kesulitan belajar adalah suatu kondisi proses belajar yang ditandai hambatan-hambatan tertentu dalam mencapai hasil belajar.
C.    Jenis-Jenis Masalah Belajar
Masalah belajar adalah suatu kondisi tertentu yang dialami oleh murid dan menghambat kelancaran proses belajarnya. Kondisi tertentu itu dapat berkenaan dengan keadaan dirinya yaitu berupa kelemahan-kelemahan yang dimilikinya dan dapat juga berkenaan dengan lingkungan yang tidak menguntungkan bagi dirinya. Masalah-masalah belajar ini tidak hanya dialami oleh murid-murid yang lambat saja dalam belajarnya, tetapi juga dapat menimpa murid-murid yang pandai atau cerdas.
Dari pengertian masalah belajar di atas maka jenis-jenis masalah belajar si Sekolah Dasar dapat dikelompokkan kepada murid-murid yang mengalami.
·         Keterlambatan akademik, yaitu keadaan murid yang diperkirakan memiliki intelegensi yang cukup tinggi, tetapi tidak dapat memanfaatkan secara optimal.
·         Kecepatan dalam belajar, yaitu keadaan murid yang memiliki bakat akademik yang cukup tinggi atau memilki IQ 130 atau lebih, tetapi masih memerlukan tugas-tugas khusus untuk memenuhi kebutuhan dan kemampuan belajarnya yang amat tinggi.
·         Sangat lambat dalam belajar, yaitu keadaan murid yang memilki bakat akademik yang kurang memadai dan perlu dipertimbangkan untuk mendapatkan pendidikan atau pengajaran khusus.
·         Kurang motivasi belajar, yaitu keadaan murid yang kurang bersemangat dalam belajar, mereka seolah-olah tampak jera dan malas.
·         Bersikap dan kebiasaan buruk dalam belajar, yaitu kondisi murid yang kegiatannya atau perbuatan belajarnya sehari-hari antagonistik dengan seharusnya, seperti suka menunda-nunda tugas, mengulur-ulur waktu, membenci guru, tidak mau bertanya untuk hal-hal yang tidak diketahui dan sebagainya.
·         Sering tidak sekolah, yaitu murid-murid yang sering tidak hadir atau menderita sakit dalam jangka waktu yang cukup lama sehingga kehilanggan sebagian besar kegiatan belajarnya.
D.    Penyebab Terjadinya Masalah Belajar
Pada garis besarnya faktor-faktor timbulnya masalah belajar pada murid dapat dikelompokkan ke dalam dua kategori, yaitu:
1)      Faktor-faktor internal (faktor-faktor yang berada pada diri murid itu sendiri), antara lain:
a.       Faktor fisiologi 
Faktor fisiologi adalah factor fisik dari anak itu sendiri. seorang anak yang sedang sakit, tentunya akan mengalami kelemahan secara fisik, sehingga proses menerima pelajaran, memahami pelajaran menjadi tidak sempurna. Selain sakit factor fisiologis yang perlu kita perhatikan karena dapat menjadi penyebab munculnya masalah kesulitan belajar adalah cacat tubuh, yang dapat kita bagi lagi menjadi cacat tubuh yang ringan seperti kurang pendengaran, kurang penglihatan, serta gangguan gerak, serta cacat tubuh yang tetap (serius) seperti buta, tuli, bisu, dan lain sebagainya.
·         Gangguan secara fisik, seperti kurang berfungsinya organ-organ perasaan, alat bicara, gangguan panca indera, cacat tubuh, serta penyakit menahun.
·         Ketidakseimbangan mental (adanya gangguan dalam fungsi mental), seperti menampakkan kurangnya kemampuan mental, taraf kecerdasan cenderung kurang.
·         Kelemahan emosional, seperti merasa tidak aman, kurang bisa menyusuaikan diri (maladjusment), tercekam rasa takut, benci dan antipati, serta ketidak matangan emosi.
·         Kelemahan yang disebabkan oleh kebiasaan dan sikap yang salah, sperti kurang perhatian dan minat terhadap pelajaran sekolah malas dalam belajar, dansering bolos atau tidak mengikuti pelajaran.
b.      Faktor psikologis.
Faktor psikologis adalah berbagai hal yang berkenaan dengan berbagai perilaku yang ada dibutuhkan dalam belajar. Sebagaimana kita ketahui bahwa belajar tentunya memerlukan sebuah kesiapan, ketenangan, rasa aman. Selain itu yang juga termasuk dalam factor psikoogis ini adalah intelligensi yang dimiliki oleh anak. Anak yang memiliki IQ cerdas (110 – 140), atu genius (lebih dari 140) memiliki potensi untuk memahami pelajaran dengan cepat. Sedangkan anak-anak yang tergolong sedang (90 – 110) tentunya tidak terlalu mengalami masalah walaupun juga pencapaiannya tidak terlalu tinggi. Sedangkan anak yang memiliki IQ dibawah 90 ataubahkan dibawah 60 tentunya memiliki potensi mengalami kesulitan dalam masalah belajar. Untuk itu, maka orang tua, serta guru perlu mengetahui tingkat IQ yang dimiliki anak atau anak didiknya. Selain IQ factor psikologis yang dapat menjadi penyebab munculnya masalah kesulitan belajar adalah bakat, minat, motivasi, kondisi kesehatan mental anak, dan juga tipe anak dalam belajar.
2)      Faktor-faktor eksternal (faktor-faktor yang timbul dari luar diri individu), meliputi:
a.       Faktor-faktor sosial
Yaitu faktor-faktor seperti cara mendidik anak oleh orang tua mereka di rumah. Anak-anak yang tidak mendapatkan perhatian yang cukup tentunya akan berbeda dengan anak-anak yang cukup mendapatkan perhatian, atau anak yang terlalu diberikan perhatian. Selain itu juga bagimana hubungan orang tua dengan anak, apakah harmonis, atau jarang bertemu, atau bahkan terpisah. Hal ini tentunya juga memberikan pengaruh pada kebiasaan belajar anak.
b.      Faktor-faktor non- sosial
Faktor-faktor non-sosial yang dapat menjadi penyebab munculnya masalah kesulitan belajar adalah factor guru di sekolah, kemudian alat-alat pembelajaran, kondisi tempat belajar, serta kurikulum.
1.      Sekolah, antara lain:
w  Sifat kurikulu yang kurang fleksibel
w  Terlalu berat beban belajar (murid) dan untuk mengajar (guru)
w  Metode mengajar yang kurang memadai
w  Kurangnya alat dan sumber untuk kegiatan belajar.
2.      Keluarga (rumah), antara lain:
w  Keluarga tidak utuh atau kurang harmonis
w  Sikap orang tua yang tidak memperhatikan pendidikan anaknya
w  Keadaan ekonomi.
Menurut Lindgren, (1967 : 55) bahwa lingkungan sekolah, terutama guru. Guru yang akrab dengan murid, menghargai usaha-usaha murid dalam belajar dan suka memberi petunjuk kalau murid menghadapi kesulitan, akan dapat menimbulkan perasaan sukses dalam diri muridnya dan hal ini akan menyuburkan keyakinan diri dalam diri murid. Melalui contoh sikap sehari-hari, guru yang memiliki penilaian diri yang positif akan ditiru oleh muridnya, sehingga murid-muridnya juga akan memiliki penilaian diri yang positif.
Jadi jelaslah bahwa guru yang kurang akrab dengan murid, kurang menghargai usaha-usaha murid maka murid akan merasa kurang diperhatikan dan akan mengakibatkan murid itu malas belajar atau kurangnya minat belajar sehingga anak itu akan mengalami kesulitan belajar. Keberhasilan seorang murid dipengaruhi oleh faktor-faktor yang berasal dari sekolah seperti guru yang harus benar-benar memperhatikan peserta didiknya.
Menurut Belmon dan Morolla (1971 : 107) menyimpulkan dari hasil penelitiannya, bahwa anak-anak yang berasal dari keluarga yang banyak jumlah anak, mempunyai keterampilan intelektual lebih rendah daripada anak-anak yang berasal dari keluarga yang jumlah anaknya sedikit.
E.     Cara Mengatasi Masalah Belajar
Secara sistematis, langkah-langkah yang perlu diambil dalam usaha mengatasi anak bermasalah adalah:
1.      Memanggil dan menerima anak yang bermasalah dalam belajar dengan penuh kasih sayang.
2.      Dengan wawancara yang dialogis diusahakan dapat ditemukan sebab-sebab utama yang menimbulkan masalah belajar.
3.      Memahami keberadaan anak dengan sedalam-dalamnya
4.      Menunjukkan cara penyelasaian masalah yang tepat untuk di renungkan oleh anak kemudian untuk dikerjakannya.
5.      Menemukan segi-segi kelebihan anak agar kelebihan itu diaktualisisr guru megatasi kekurangannya
6.      Menanamkan nilai-nilai spritual yang benar.

 BAB II
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Pada dasarnya semua anak memiliki kemampuan, walaupun mungkin saja kemampuan yang dimiliki berbeda satu dengan yang lainnya. pada tingkat pendidikan dasar berbagai kemampuan tersebut masih memiliki relasi yang kuat, membaca, menulis, serta berhitung. Masalah yang mungkin ada pada pada salah satu kemampuan tersebut dapat menggangu kemampuan yang lain. Dengan demikian apa yang kita sering lakukan baik sebagai seorang orang tua, ataupun seorang guru dengan mengatakan seorang anak yang mendapatkan nilai yang rendah merupakan anak yang bodoh dan gagal perlu menjadi perhatian kita. Karena sebagaimana kita ketahui bahwa mungkin saja anak hanya mengalami gangguan pada salah satu kemampuan tadi, dan ia tidak tahu bagaimana mengatasi masalah tersebut.
Untuk itu, yang terpenting bagi kita adalah dapat menelaah dengan baik perkembangan anak kita. Diagnosis terhadap permasalahan sesungguhnya yang dialami anak mutlak harus dilakukan. Dengan demikian kita akan mengetahui kesulitan belajar apa yang dialami anak, sehingga kita dapat menentukan alternatif pilihan bantuan bagaimana mengatasi kesulitan tersebut.
B.     Saran

Dengan adanya materi tentang “Jenis-Jenis Masalah Belajar” diharapkan pembaca dapat mengetahui masalah-masalah belajar yang dialami oleh peserta didik dan mampu mengatasi masalah tersebut dengan baik serta dapat dijadikan sebagai refrensi dalam belajar. 

guru profesional

I.       PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
            Usaha peningkatan kualitas sumber daya insani adalah melalui proses pendidikan, guru mempunyai peranan penting dalam meningkatkan mutu pendidikan dan memperbaiki system pendidikan dalam rangka meningkatkan kualitas sumber daya manusia untuk mencapai cita-cita kemerdekaan. Oleh karena itu kemampuan guru dan calon guru harus ditingkatkan melalui program pendidikan guru, baik melalui pre service education maupun in service education.
Pada pasal 28 Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan (Benk, 2011) mengatakan bahwa “pendidik adalah agen pembelajaran yang harus memiliki empat jenis kompetensi, yaitu kompetensi paedagogik, kepribadian, professional dan sosial”. Kompetensi guru merupakan kemampuan atau kecakapan yang harus dimiliki oleh seorang guru. Kompetensi pendidik atau guru dapat diartikan sebagai kebulatan pengetahuan, ketempilan dan sikap yang diwujudkan dalam bentuk perangkat tindakan cerdas dan penuh tanggung jawab yang mutlak dimiliki oleh seorang guru untuk memangku jabatan guru sebagai sebuah profesi. Guru sebagai sebuah profesi menuntut setiap pendidik memiliki empat kompetensi atau kecakapan sebagai bekal yang diperlukan dalam menjalankan tugas mulianya.
Mendidik guru SD yang profesioanl membutuhkan waktu lama dan dana yang besar. Suparman (Djumiran, 2008: 4) menegaskan dalam diskusi panel bahwa “guru professional bukanlah barang sekali jadi”. Jika guru professional bukan barang sekali jadi, maka berarti guru professional itu membutuhkan proses yang lam dan berkesinambungan.
Menjadi guru professional bukan merupakan jalan yang mulus, namun banyak hambatan. Sebagai contoh, hubungan antar sesama guru dan kepala sekolah lebih banyak bersifat birokratis dan administratif daripada kesejawatan, sehingga tidak mendorong terbangunnya suasana dan budaya professional akademik dikalangan guru. Para gurupun semakin jauh terjebak dari prinsip-prinsip profesionalitas. Mereka jauh dari buku, kebiasaan diskusi, menulis, apalagi melakukan penelitian. Oleh karena itu pembenahan dan peningkatan mutu guru berkaitan dengan kompetensi professional harus berlaku sepanjang kariernya.
B.     Tujuan Penulisan
            Adapun tujuan penulisan yang ingin dicapai dalam makalah ini adalah agar kita dapat mengetahui:
1.      Pengertian guru professional
2.      Idealitas profesional guru.
3.      Fungsi dan peranan guru.
4.      Ciri-ciri guru profesional.
5.      Komptensi profesional yang harus dimiliki oleh seorang guru
C.    Manfaat Penulisan
            Adapaun manfaat dari penulisan makalah tersebut adalah:
1.      Dapat menambah pengetahuan guru dan calon guru untuk nantinya tentang sosok guru professional.
2.      Diharapkan dapat menambah khasanah ilmu pengetahuan dan menjadi sumber bacaan bagi pembaca.
3.      Dapat memperluas wawasan keilmuan dalam rangka meningkatkan kualitas keilmuannya tentang guru professional.










II.    PEMBAHASAN
A.    Pengertian Guru Profesional
Guru profesional adalah guru yang memiliki keahlian, tanggung jawab, dan rasa kesejawatan yang didukung oleh etika profesi yang kuat. Untuk itu ia harus telah memiliki kualifikasi kompetensi yang memadai: kompetensi intelektual, sosial, spiritual, pribadi dan moral (Mohamad Surya, 2003:28). Sedangkan H.A.R Tilaar (1999:205) menggagaskan profil guru professional abad 21 sebagai berikut.
1.      Memiliki kepribadian yang matang dan berkembang (mature and developing personality) sebagaimana dirumuskan Maister 'professionaism is predominantly an attitude, not a set of competencies only. Ini berarti bahwa seorang guru professional adalah pribadi-pribadi unggul terpilih;
2.      Menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi yang kuat. Melalui dua hal ini seorang guru profesional akan menginspirasi anak didiknya dengan ilmu dan teknologi. Guru profesional semestinya ia adalah 'ilmuwan' yang dibentuk menjadi pendidik.
3.      Menguasai keterampilan untuk membangkitkan minat dan potensi peserta didik. Oleh karena itu seorang guru profesional harus lah menguasai keterampilan metodologis membelajarkan siswa. Karakteristik ini yang membedakan profesi guru dari profesi lainnya. Jika karakteristik ini tidak secara sungguh-sungguh dikuasai guru, maka siapa saja dapat menjadi 'guru' seperti yang terjadi sekarang ini. Akibat lebih lanjut dari ini adalah profesi guru akan kehilangan 'bargaining position'.
4.      Pengembangan profesi yang berkesinambungan. Propesi guru adalah profesi mendidik. Seperti halnya ilmu mendidik yang senantiasa berkembang, maka profil guru profesional adalah guru yang terus menerus mengembangkan kompetensi dirinya. Pengembangan kompetensi ini dapat dilakukan secara institusional (LPTK), dalam praktik pendidikan, atau secara individual.

            Sejalan dengan gagasan HAR Tilaar di atas, Dedi Supriadi (1999:98) mengutip Jurnal Education Leadership edisi Maret 1993 mengenai lima hal yang harus diraih guru agar menjadi profesional. Kelima hal tersebut adalah.
1.      Guru mempunyai komitmen pada siswa dan proses belajarnya. Ini berarti bahwa komitmen tertinggi guru adalah kepada kepentingan siswanya.
2.      Guru menguasai secara mendalam bahan/mata pelajaran yang diajarkannya serta cara mengajarkannya kepada para siswa.
3.      Guru bertanggung jawab memantau hasil belajar siswa melalui berbagai teknik evaluasi, mulai cara pengamatan dalam perilaku siswa sampai tes hasil belajar.
4.      Guru mampu berpikir sistimatis tentang apa yang dilakukannya, dan belajar dari pengalamannya. Artinya, harus selalu ada waktu bagi guru guna mengadakan refleksi dan koreksi terhadap apa yang telah dilakukannya. Untuk bisa belajar dari pengalaman, ia harus tahu mana yang benar dan salah, serta baik buruk dampaknya pada proses belajar siswa.
5.      Guru seyogyanya merupakan bagian dari masyarakat belajar dalam lingkungan profesinya.
            Kelima hal di atas amat sederhana dan pragmatis. Justru karena keseder-hanaan itu akan membuat sesuatu mudah dicapai. Untuk meneguhkan kesuksesan kinerja pendidik sebagai guru profesional dan merupakan jabatan strategis dalam membangun masyarakat, Mohamad Surya (2003:290-292) menekankan perlunya seorang guru memiliki kepribadian efektif. Kepribadian merupakan keseluruhan perilaku dalam berbagai aspek yang secara kualitatif akan membentuk keunikan atau kekhasan seseorang dalam interaksi dengan lingkungan di berbagai situasi dan kondisi. Kepribadain efektif seorang guru adalah kepribadian berkualitas yang mampu berinteraksi dengan lingkunganpendidikan yang sebaik-baiknya agar kebutuhan dan tujuan pendidikan dapat tercapai secara efektif.
B.     Idealitas Profesi Guru
Guru dalam KBBI adalah pengajar suatu ilmu. Sedangkan,dalam bahasa indonesia,guru lebih merujuk pada tugas utamanya, yaitu mendidk, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai dan mengevaluasi peserta didik.
Secara umum, guru adalah pendidik dan pengajar pada pendidikan, mulai dari tingkat PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini), pendidikan dasar, hingga menengah. Dalam hal ini, untuk dapat melakukan peranan dalam melaksanakan tugas, guru harus memiliki kualifikasi formal yang dipersyaratkan. Syarat-syarat inilah yang akan membedakan antara guru dengan manusia-manusia lain pada umumnya. Adapun syarat-syarat menjadi guru dapat diklasifikasikan menjadi beberapa kelompok (Subini 2012: 9).
1.      Persyaratan administratif
Syarat-syarat administratif ini antara lain meliputi:
a.       Soal kewarganegaraan (warga negara indonesia).
b.      Umur (sekurang-kurangnya 18 tahun).
c.       Berkelakuan baik, mengajukan permohonan .
d.      Syarat-syarat lain yang telah ditentukan sesuai dengan kebijakan yang ada.
2.      Persyaratan teknis
Secara teknis, pensyaratan menjadi guru antara lain:
a.       Bersifat formal, yakni harus berijazah pendidikan guru.
b.      Mampu mengajar (menguasai cara dan teknik mengajar).
c.       Terampil mendesain program pengajaran.
d.      Memiliki motivasidan cita-cita memajukan pendidikan / pengajaran.
3.      Persyaratan psikis
Yang berkaiatan dengan kelompok persyaratan psikis, antara lain:
a.       Memiliki panggialan hati nurani untuk mengabdi untuk anak didik.
b.      Sehat rohani.
c.       Sabar,ramah dan sopan.
d.      Dewasa dalam berfikir dan bertindak.
e.       Mampu mengendaliakn emosi.
f.       Memiliki jiwa kepemimpinan .
g.      Konsekuen dan berani bertanggung jawab.
h.      Berani berkorban.
i.        Memiliki jiwa pengabdian.
j.        Bersifat pragmatis dan realistis.
k.      Memiliki pandangan yang mendasar dan filosofis.
l.        Mematuhi norma dan nilai yang berlaku.
m.    Memiliki jiwa dan semangat pembangunan.
4.      Persyaratan fisik
Secara  fisik persyaratan menjadi guru antara lain:
a.       Berbadan sehat.
b.      Tidak memiliki cacat tubuh yang mungkin mengganggu pekerjaannya.
c.       Tidak memiliki gejala-gejala penyakit yang menular.
d.      Dalam hal ini juga menyangkut kerapian dan kebersihan, termasuk bagaimana cara berpakaian, melihat akan selalu dilihat/diamati dan bahkan dinilai oleh para siswa/anak didiknya.
5.      Persyaratan mental
Persyaratan mental seorang guru antara lain:
a.       Memiliki sikap mental yang baik terhadap profesi keguruan.
b.      Mencintai dan mengabdi pada tugas jabatan.
c.       Bermental pancasila.
d.      Bersikap hidup demokratis.
6.      Persyaratan moral
Persyaratan moral meliputi:
a.       Guru harus mempunyai sifat sosialdan budi pekerti yang luhur.
b.      Sanggup berbuat kebajikan.
c.       Bertingkah laku yang bisa dijadikan suritauladan bagi orang-orang dan masyarakat di sekelilingnya.
C.    Fungi dan Peranan Guru
1.      Fungsi Guru
Dalam Ditjek P2TK tahun 2004 (Subini 2012: 12) disebutkan secara lengkap tugas pokok dan fungsi guru (TUPOKSI) di sekolah antara lain “a. mendidik, mengajar, membimbing, dan melatih; b. membantu pengelolaan dan pengembangan program sekolah; c. mengembangkan keprofesionalan”.
a.       Mendidik , mengajar, membimbing dan melatih
Dalam fungsi sebagai pendidik, seorang guru bertugas antara lain :
                              1)            Mengembangkan potensi atau kemampuan dasar peserta didik.
                              2)            Mengembangkan kepribadian peserta didik.
                              3)            Memberikan keteladan
                              4)            Menciptakan suasana pendidikan yang kondusif
Sedangkan yang berkaitan dengan pengajar, tugas guru antara lain:
                              5)            Merencanakan pembelajaran
                              6)            Melaksanakan pembelajaran yang mendidik
                              7)            Menilai proses dan hasil pembelajaran.
Yang berhubungan dengan pembimbing , tugas guru adalah :
                              8)            Mendorong perkembanganya perilaku positif dalam pembelajaran
                              9)            Membimbing peserta didik memecahkan masalah dalam pembelajaran
Sedangkan dalam fungsi sebagai pelatih, tugas guru adalah :
                          10)            Melatih keterampilan-keterampilan yang di perlukan dalam pelajaran.
                          11)            Membiasakan peserta didik berperilaku positif dalam pembelajaran.
b.      Membantu Pengelolaan dan Pengembangan Program Sekolah
Dalam membantu pengelolaan dan pengembangan program sekolah, seorang guru berfungsi:
1)      Pengembangan program, tugasnya  membantu mengembangkan  pendidikan sekolah dan hubungan keraja sama intra sekolah.
2)      Sebagai pengelolah program, tugasnya membantu mengembangkan pendidikan sekolah dan hubungan kerja sama antar sekolah dan masyarakat.
c.       Mengembangkan Keprofesionalan
Sebagai tenaga profesional, seorang guru bertugas melakukan upaya-upaya untuk meningkatkan kemampuan keprofesionalnya.
Menurut seorang guru dan pembina serta pelatih olimpiade Mukhlis SE (Subini, 2012: 14), tugas ada dua belas, anntara lain :
1)      Mentransfer ilmu pengetahuan terhadap anak didik.
2)      Membentuk kepribadian anak yang harmonis.
3)      Menyiapkan anak menjadi warga negara yang baik.
4)      Pembimbing membawa anak didik ke arah kedewasaan.
5)      Penghubung antara sekolah dan masyarakat.
6)      Guru sebagai disiplin
7)      Sebagai medium dalam belajar
8)      Guru sebagai administrator dan manajer
9)      Pekerjaan guru sebagai suatu profesi
10)  Guru sebagai perencanaan kurikulum
11)  Guru sebagai perencanaan kurikulum
12)  Guru sebagai sponsor dalam kegiatan anak-anak
2.      Peranan Guru
Menurut Mukhlis (Subini, 2012: 20), peranan guru mencakup tiga belas hal, yaitu:
a)      Guru sebagai korektor.
b)      Guru sebagai inspirator.
c)      Guru sebagai informator.
d)     Guru sebagai organisator.
e)      Guru sebagai motivator.
f)       Guru sebagai inisiator.
g)      Guru sebagai fasilitator.
h)      Guru sebagai pembimbing.
i)        Guru sebagai demonstrator.
j)        Guru sebagai pengelolah kelas.
k)      Guru sebagai mediator.
l)        Guru sebagai supervisor.
m)    Guru sebagai evaluator.
Sedangkan yang berhubungan dengan peran seorang guru, menurut WF Connell 1972 (Subini, 2012: 16) ada tujuh, yaitu:” a) Pendidik (nurturer); b) Model; c) Pengajar dan pembimbing; d) Pelajar (learner); e) Komunikator terhadap masyarakat setempat; f) Pekerja administrasi; g) Kesetiaan terhadap lembaga”.
D.    Ciri-Ciri Guru Profesional
Profesional merupakan tipe guru terbaik yang diharapkan ada pada tiap sekolah. Guru idela dituntut memiliki keahlian (kompetensi) mengajar tinggi, mulai dari perencanaan hingga evaluasi. Guru juga harus memiliki sikap mental dan moralitas yang penuh tanggung jawab. Dia memiliki hasrat kuat dan rasa tanggung jawab tinggi untuk membuat anak didik berhasil.
Ciri-ciri guru tipe profesional (Subini, 2012: 58):
1.      Biasa mempersiapkan model, berbagai instrumen dan bahan pembelajaran tanpa diminta, karena menganggapnya sebagai kebutuhan.
2.      Aktif mencari dan mengembangkan bahan-bahan pembelajaran sendiri.
3.      Aktif mencari cara agar seluruh anak didiknya berhasil.
4.      Sering menjadikan masalah pembelajaran dan siswa sebagai topik pembelajaran.
5.      Aktif mengevaluasi kinerjanya sendiri agar kualitas pembelajarannya meningkat.
6.      Berusaha menjadi contoh dan pembimbing terbaik bagi siswa.
7.      Keberhasilan mengajar tinggi. Guru merasa malu/tidak puas bila anak didiknya belum berhasil sehingga terus berusaha mencari cara agar siswanya berhasil mencapai komptensi yang diharapkan.
8.      Lebih suka berkumpul dengan siswa dibanding dengan guru sehingga mempunyai kedekatan dan pengaruh kuat pada siswa.
9.      Sering menjadi idola siswa.



E.     Kompetensi Profesional Guru
Dalam Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 pasal 10 ayat 1 (Djumiran dkk, 2008: 12) mengatakan “kompetensi guru dikelompokkan menjadi empat kelompok, yaitu kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial dan kompetensi professional”.
1.      Kompetensi Pedagogik
Kompetensi pedagogik adalah kemampuan mengelolah pembelajaran peserta didik. Termasuk dalam kompetensi ini antara lain:
a)      Menata ruang kelas
b)      Mencuptakan iklim yang kondusif
c)      Memotivasi siswa agar bergairah belajar
d)     Memberi penguatan verbal maupun non verbal
e)      Memberikan petunjuk-petunjuk yang jelas kepada siswa
f)       Tanggap terhadap gangguan kelas
g)      Menyegarkan kelas jika kelas mulai lelah
2.      Kompetensi Kepribadian
Kompetensi kepribadian adalah kemampuan kepribadian yang mantap, berakhlak mulia, arif dan berwibawa serta menjadi teladan peserta didik. Termasuk dalam kompetensi ini antara lain:
a)      Beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa
b)      Memahami tujuan pendididkan dan pembelajaran
c)      Memahami diri (mengetahui kelebihan dan kekurangan dirinya)
d)     Mengembangkan diri
e)      Menunjukkan keteladanan kepada peserta didik
f)       Menunjukkan sikap demokratis, toleran, tenggang rasa, jujur, adil, tanggung jawab, disiplin, santun, bikjaksana dan kreatif.
3.      Kompetensi Sosial
Kompetensi sosial adalah kemampuan guru untuk berkomunikasi dan berinteraksi secara efektif dan efisien dengan peserta didik, sesama guru, orang tua/wali peserta didik dan masyarakat sekitar. Termasuk dalam kompetensi ini antara lain:
a)      Luwes bergaul dengan siswa, sejawat dan masyarakat
b)      Bersikap ramah, akrab dan hangat terhadap siswa, sejawat dan masyarakat
c)      Bersikap simpatik dan empatik
d)     Mudah menyesuaikan diri dengan lingkungan sosial
4.      Kompetensi Profesional
Kompetensi profesional adalah kemaampuan penguasaan materi pelajaran secara luas dan mendalam. Menurut Dirjen Dikti Depdiknas (Djumiran dkk, 2008: 14) sosok utuh kompetensi profesinal guru (dalam hal ini guru SD) terdiri atas kemampuan:
a)      Mengenal secara mendalam peserta didik yang hendak dilayani
b)      Menguasai bidang ilmu sumber bahan ajaran lima mata pelajaran di SD baik dari segi:
1)      Substansi dan metodologi bidang ilmu, mapun
2)      Pengemasan bidang ilmu menjadi bahan ajar dalam kurikulum SD
c)      Menyelenggarakan pembelajaran yang mendidik yang mencakup
1)      Perancangan program pembelajaran berdasarkan serentetan keputusan situasional
2)      Implementasi program pembelajaran termasuk penyesuaian sambil jalan berdasarkan on-going transactional decisions berhubung reaksi unik dari peserta didik terhadap tindakan guru
d)     Mengembangkan kemampuan profesinal secara berkelanjutan










III. PENUTUP
A.    Kesimpulan
Secara umum, guru adalah pendidik dan pengajar pada pendidikan, mulai dari tingkat PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini), pendidikan dasar, hingga menengah. Dalam hal ini, untuk dapat melakukan peranan dalam melaksanakan tugas, guru harus memiliki kualifikasi formal yang dipersyaratkan.
Tugas pokok dan fungsi guru (TUPOKSI) di sekolah antara lain a. mendidik, mengajar, membimbing, dan melatih; b. membantu pengelolaan dan pengembangan program sekolah; c. mengembangkan keprofesionalan.
Ada empat kompetensi yang harus dimiliki oleh seorang guru, yaitu kompetensi pedagogic, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial dan kompetensi professional.
B.     Saran
Sebagai seorang guru dan calon guru nantinya diharapkan dapat mengenal tentang  dirinya karena seorang guru professional sadar bahwa dirinya itu terpanggil untuk mendampingi peserta didik dalam pembelajaran dan selalu berusaha mencari tahu mengenai bagaimana seharusnya membelajarkan peserta didik.







DAFTAR PUSTAKA
Benk, Mas. 2011. Profil Guru Profesional. http://muryonotianov.blogspot.com/2011/11/guru-profesional.html diakses pada tanggal 18 Sepetember 2012
Djumiran, dkk. 2008. Profesi Keguruan. _______. Departemen Pendidikan Nasional.
Hak, Syuruk. 2010. Profesi Kependidikan. Makassar: Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Makassar.

Subini, Nini. 2012. Awas, Jangan Jadi Guru Karbitan. Jakarta: PT Buku Kita.